Taufik Ismail: Institusi Pendidikan Wajib Ajarkan Budaya Malu!

taufik ismailJAKARTA, KOMPAS.com – Sastrawan Taufik Ismail mengatakan, maraknya permasalahan korupsi, kolusi dan nepotisme di Indonesia saat ini tak hanya terjadi di kalangan tertentu, namun semakin meluas ke seluruh lapisan masyarakat. Dia menegaskan bahwa permasalahan KKN di Indonesia disebabkan karena hilangnya rasa malu dalam diri kita.

“Fenomena-fenomena yang terjadi di negara kita ini disebabkan karena terkikisnya atau hilangnya rasa malu pada diri kita,” ujar Taufik di hadapan ratusan wisudawan Universitas Nasional dan Akademi-Akademi Nasional yang menghadri wisuda Periode II Tahun Akademik 2012/2013, di Jakarta Convention Center, Minggu (6/10/2013).

Untuk itu, Taufik menegaskan bahwa institusi pendidikan harus mengajarkan budaya malu sejak dini kepada generasi muda. Dengan begitulah, kata dia, degradasi mentalitas bangsa tidak terus terpuruk.

Dok UnasTaufik Ismail di hadapan ratusan wisudawan Universitas Nasional dan Akademi-Akademi Nasional yang menghadri wisuda Periode II Tahun Akademik 2012/2013, di Jakarta Convention Center, Minggu (6/10/2013).

Taufik mencontohkan, hilangnya rasa malu menyebabkan para petinggi negara dengan bebasnya melakukan praktik KKN. Terakhir, kasus tetangkapnya Ketua Mahkamah Konstosusi (MK), Akil Mochtar, oleh KPK.

Selain itu, Taufik juga prihatin akan pudarnya budaya baca dan menulis di kalangan generasi muda saat ini. Untuk itu, ia menghimbau para wisudawan untuk terus membaca dan menulis meskipun telah menyelesaikan studinya.

“Mari tanamkan budaya membaca dan menulis sejak dini. Ajarkan mereka berenang di samudera ilmu. Ajarkan pula mereka menulis, tidak hanya memindahkan alfabet ke kertas, namun memindahkan pikiran dalam bahasa tulisan,” paparnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Nasional, Drs. El Amry Bermi Putera juga menyoroti permasalahan–permasalahan di negeri ini sebagai dampak negatif dari adanya transformasi nilai–nilai budaya global pasca reformasi,  yakni adanya disorientasi nilai budaya, disorder terhadap aturan, norma dan etika serta disharmonisasi dalam kehidupan bermasyarakat.

“Dampak negatif ini menumbuhkan sikap saling curiga, adanya ketidakpercayaan sesama anak bangsa sehingga mudah memicu konflik antarkelompok politik, sosial dan komunal. Karena itu, perguruan tinggi jangan hanya jadi menara gading terhadap persoalan negara. Justru, kita harus mempunyai langkah progresif agar dapat menyelamatkan bangsa ini,” jelas El Amry.

Langkah – langkah progresif yang dapat dilakukan, lanjut El Amry, dalah melakukan konsolidasi buday dengan menumbuhkan kembali akar budaya bangsa relijius, berbudi pekerti, toleransi, gotong royong, musyawarah–mufakat dalam gerakan nasional, dalam bentuk dialog budaya.

“Di situ perguruan tinggi perlu terlibat aktif dan konsisten melakukan kajian secara mendalam dalam merumuskan konsep operasional landasan filosof Pancasila mengenai nilai–nilai budaya bangsa. Dunia pendidikan juga dituntut untuk dapat membentuk lulusan–lulusan baik di tingkat dipoma, sarjana, magister maupun doctor yang berkarakter,” papar El Amry.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *