Kisah Tuna Netra Menjelajah Internet

173431_ilustrasi-penggunaan-internet-di-layar-komputer_663_382

VIVAnews – Internet tidak hanya mengubah cara berkomunikasi. Penyandang disabilitas, dalam hal ini kaum tuna netra, juga turut merasakan manfaat penting Internet dalam meningkatkan kualitas hidupnya.

Hal itu diungkapkan Bambang Basuki, pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Mita Netra, sebuah yayasan nirlaba yang mengedukasi kaum tuna netra.

“Jelas sekali keuntungan Internet. Orang tuna netra kan nggak bisa baca koran, surat. Nah, dengan e-mail jadi bisa baca, dan lebih privat,” jelas Bambang, yang juga tuna netra, usai penganugerahan Indonesia Innovate oleh Google Indonesia, 4 Juli 2013, di Jakarta.

Internet, kata Bambang, membantu kehidupan penyandang disabilitas ini. “Yang dulu tidak bisa dilakukan, sekarang jadi bisa,” ujarnya.

Tapi, bagaimana cara kaum tuna netra membaca layar komputer sementara mereka tidak dapat melihat? Bambang membeberkan, untuk mengakses komputer tuna netra menggunakan dua alat bantu.

Pertama, dengan screen reader atau pembaca layar. Alat ini berfungsi membacakan semua objek yang ada di layar. Namun, alat ini tergolong mahal, harganya Rp12 juta-an.

“Tapi, kami sekarang ada software pembaca layar gratis. Namanya NVDA. Jadi, kami manfaatkan itu,” tuturnya.

Cara kedua, tuna netra membaca Internet dengan braile display. Cara ini menurutnya tidak begitu fleksibel, kecuali bagi tuna netra yang ingin mendalami pengetahuan yang spesifik, misalnya matematika.

Kisah awal

Meski menyandang cacat, Bambang boleh dibilang tidak gaptek. Pada tahun 1992, saat Internet belum populer, ia sudah tergerak mengembangkan pendidikan Internet tuna netra.

“Saat itu, yang ramai digunakan masih Lotus. Ya, susah sekali, apalagi masih dianggap langka ketika itu,” kisah Bambang.

Tapi, dengan gigih dan dukungan perkembangan teknologi, upaya pendidikan Internet tuna netra sedikit demi sedikit semakin terbantu.

“Sebenarnya, produk Apple mendukung tuna netra, tapi harga perangkatnya cukup mahal. Sebab itu, kami gunakan perangkat lain, apa saja, ya termasuk Windows,” imbuhnya.

Berkat kegigihanya, minat belajar komputer dan Internet kian tinggi di kalangan tuna netra. Bambang mengaku, Yayasan Mitra Netra tiap tahun mendidik tuna netra dari usia pendidikan dasar sampai perguruan tinggi.
“Kalau di Jakarta, tiap tahun kami melayani 80-100 tuna netra,” katanya.

Kini, orang tuna netra hampir bisa melakukan semua aktivitas seperti orang normal, tak terkecuali presentasi menggunakan Powerpoint. Bahkan, beberapa tuna netra didikan lembaga ini ada yang bisa menjalankan bisnis online.

“Sangat membantu. Ada yang bisnis penyedia peralatan tuna netra dengan pemesan dari pasar internasional,” ungkapnya.

Beberapa tuna netra bahkan telah mampu membuat situs khusus untuk tuna netra.

Akses terbatas

Meski terbantu dengan teknologi, Bambang mengakui, keterbatasan akses yang layak bagi tuna netra dalam menggunakan komputer dan Internet tetap ada.

Dalam menjelajahi komputer, tuna netra tidak menggunakan mouse, tapi keyboard, sehingga untuk tingkat awal mereka harus kursus khusus.

“Soal akses, kami lelah kalau harus bertemu objek grafik. Apalagi, saat baca portal berita, di mana kami harus mengikuti secara detail arahan screen reader, tidak bisa melompat,” kata Bambang.

Padahal, menurut ketentuan Standard Web Accesibility, portal harus bisa lebih ramah dengan tuna netra.

Berkaitan dengan hal itu, pihaknya saat ini sedang memperjuangkan ketersediaan standar Web tersebut.

Satu hal lagi, kaum tuna netra berharap pemerintah segera merevisi UU Hak Cipta, terkhusus pada ketentuan yang membatasi akses tuna netra.

Sumber: http://teknologi.news.viva.co.id