Mereka Terpaksa Berbagi, Satu Ruang, Tiga Kelas…

kelasKOMPAS.com – Suasana kelas amat riuh, seperti dalam sebuah perlombaan cerdas cermat. Agus Kurniawan (30), guru, membacakan soal kesenian. Belum lagi soal itu selesai dibacanya, anak-anak saling berebut menjawab pertanyaan.

Hanya berjarak kurang dari 3 meter dalam ruangan yang sama, seorang guru lain, Yasri, juga mengadakan kuis tanya-jawab. Belasan anak dengan suara tak kalah keras berlomba menjawab soal-soal itu.

Masih di ruangan yang sama, sejumlah siswa lain sibuk mengerjakan tugas di buku. Sambil menulis, mereka sesekali melirik temannya yang sedang ramai mengikuti kuis.

Tiga kelas itu memenuhi satu lokal (ruangan). Begitulah pemandangan sehari-hari di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 191 Pematang Kabau, Kecamatan Air Itam, Kabupaten Sarolangun, sekitar 260 kilometer arah barat Kota Jambi. Pemandangan ini mungkin aneh bagi yang pertama kali melihat. Bagaimana siswa bisa konsentrasi mengerjakan soal ketika di sebelahnya, dalam ruangan yang sama, siswa kelas lain gaduh dengan acara kuis. Konsentrasi anak-anak itu amat mungkin mudah terbelah.

”Kelas memang jadi ramai sekali. Ya, beginilah keadaannya setiap hari,” ujar Agus, guru kelas IV. Kelas yang dipimpinnya berada dalam satu ruangan dengan kelas III dan kelas V.

Sejak diresmikan tahun 1994, sarana pendidikan di SDN 191 selalu terbatas. Sekolah itu hanya memiliki dua lokal untuk tempat belajar bagi semua siswa. Tidak ada ruang guru, ruang usaha kesehatan sekolah, apalagi perpustakaan. Bangunan mandi cuci kakus juga sudah rusak. Kepala sekolah terdahulu berinisiatif menyekat salah satu ruangan. Ruangan kecil hasil sekatan itu kini dipakai sebagai ruangan guru.

Baru awal tahun ini, pemerintah mendirikan sebuah perpustakaan kecil di ujung bangunan sekolah. Guru pun kemudian pindah, menjadikan ruangan itu sebagai perpustakaan merangkap ruang guru. Sementara ruangan yang semula disekat itu digunakan untuk belajar siswa kelas VI.

Sebagian kecil siswa

Kepala SDN 191 Ade Irma Suryani mengeluhkan kondisi ruangan kelas itu karena bisa memengaruhi penerimaan siswa terhadap materi pelajaran. Ia telah mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk menambah ruangan belajar bagi siswa. Namun, hingga kini, usulan itu belum terealisasi.

Keadaan miris tidak hanya terjadi pada persoalan minimnya sarana pendidikan. Jumlah kehadiran siswa dalam kegiatan belajar-mengajar juga sangat rendah. Siswa yang terdaftar sebanyak 140 orang, tetapi sehari-harinya hanya sekitar 40 persen yang hadir. Ke manakah mereka?

Saat Kompas berkunjung ke sekolah itu, Jumat (26/4), hanya sekitar 50 siswa yang hadir. Menurut Ade Irma, sebagian besar siswa tak bersekolah karena sedang di hutan membantu orangtuanya bekerja. ”Rumah mereka di rimba. Mereka biasa bersekolah seminggu, lalu pulang seminggu lamanya, dan baru masuk sekolah minggu depan lagi,” tuturnya.

Jauhnya jarak dari rumah Orang Rimba di dalam Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi menuju sekolah kerap menjadi penghalang kedatangan siswa. Butuh waktu 2 jam berjalan kaki dari rumah Orang Rimba terluar hingga ke tepian hutan. Perjalanan berlanjut, dari tepi TNBD menuju SDN 191 memerlukan waktu sekitar 1 jam. Perjalanan panjang yang melelahkan.

Buta aksara

SDN 191 dibangun pemerintah atas semangat mengentaskan Orang Rimba atau suku Anak Dalam dari buta aksara. Orang Rimba adalah komunitas adat dalam hutan di wilayah tengah Jambi. Mereka membangun kehidupan di dalam hamparan TNBD, tersebar di Kabupaten Tebo, Merangin, Batanghari, dan Sarolangun.

Orang Rimba semula tak mengenal huruf dan angka. Tak ada interaksi dengan orang luar. Aturan yang tertuang dalam seloka adat pada mulanya menyebutkan, pengetahuan dunia luar bertentangan dengan adat setempat. Ada kekhawatiran, jika pandai membaca dan menulis, Orang Rimba akan melupakan dan meninggalkan rimbanya. Mereka pun semula tertutup dengan pendidikan umum.

Sejalan dengan berkembangnya program transmigrasi nasional, interaksi dengan orang desa sekitar mulai tumbuh. Ketika sebagian Orang Rimba memperoleh bantuan permukiman dan sekolah dari pemerintah, sejumlah orangtua mulai terbuka menyekolahkan anaknya. Saat ini, dari 140 siswa terdaftar di SDN 191, hanya 12 siswa berasal dari kalangan non-rimba. Itu menandakan tingginya minat sekolah Orang Rimba.

Pemangku Adat Orang Rimba dari Kelompok Kedundung Muda, Basemen, mengatakan, sebagian besar Orang Rimba kini memiliki kesadaran untuk menempuh pendidikan. Namun, sistem pendidikan yang diterapkan pemerintah belum memperhatikan adat dan budaya lokal. ”Anak laki-laki wajib membantu orangtua bekerja. Namun, bukan berarti kami tak ingin mereka pintar,” ujar dia.

Selama ini banyak siswa tidak masuk ke sekolah, menurut dia, bukan karena malas. Anak-anak itu tetap belajar dalam rimba setelah membantu orangtua. Mereka difasilitasi relawan dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi. Relawan menginap selama dua pekan sekali untuk mendidik anak-anak. Dalam kegiatan belajar-mengajar, guru relawan menyesuaikan diri dengan berpakaian setempat, yaitu bercawat untuk laki-laki serta bersarung dan berkemben untuk perempuan. Penyesuaian dengan adat setempat diyakini memacu semangat anak belajar.

Saat ini lebih dari 400 anak rimba telah melek huruf dan angka. Kemampuan baca, tulis, dan hitung mereka peroleh bukan dari sekolah umum, melainkan melalui kegiatan sekolah khusus dalam rimba. Beberapa di antara anak-anak rimba bahkan telah mencapai tingkat sekolah menengah atas. Ada pula yang menjadi penyiar radio. Salah satu anak Basemen, yakni Beteguh, menjadi juara kelas di SMP 12 Satu Atap Sarolangun.

Ia berharap pemerintah jangan memaksakan anak rimba mengikuti pola pendidikan umum. Selama kegiatan pendidikan berlangsung di luar wilayah kehidupan Orang Rimba, selama itu pula kegiatan belajar-mengajar seolah berlangsung setengah-setengah. Sementara anak-anak rimba memiliki semangat tinggi untuk pintar. Mereka juga memiliki cita-cita yang tinggi sebagaimana anak lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *